Selasa, 22 November 2011

Jika Anda Ingin "Tidak Jadi" Marah


Hari ini saya dibuat agak kesal karena pasangan saya tidak meresponi pesan yang saya sampaikan via BBM. Berbicara adalah cara saya berkomunikasi dengan orang lain sehingga saya dapat melakukannya kapan saja saya bermaksud untuk menyampaikan sesuatu. Memang sulit berkepala dingin saat hati sedang kesal. Berbagai cacian yang ada di kepala ingin terlontar begitu saja. Sungguh sulit menahan perkataan saya yang cenderung ketus dan penuh dengan intimidasi.

Saya teringat beberapa kali ketika saya sedang marah, saya langsung melontarkan pernyataan-pernyataan yang penuh dengan tuduhan kepada pasangan saya. Sesudahnya, tentu saja kami bertengkar hebat sehingga membuat kami selalu berakhir kalah di sudut masing-masing. Saya sempat frustasi dan berpikir bahwa pasangan saya merupakan orang yang sulit untuk diajak berkomunikasi. Saya bingung kenapa saya sudah ngomong tapi kok dia ngak ngerti-ngerti. Saya menarik kesimpulan kalau dia tidak berusaha untuk mengerti saya. Saya bosan karena hubungan kami seperti tidak bergerak kemana-mana. Kami bertengkar karena hal yang itu-itu lagi. Berkali-kali saya rasanya ingin menyerah saja. 

Berulang kali ketika kami bertengkar, pasangan saya melontarkan kalimat "kamu tuh mengintimidasi aku". Saya tetap ngotot bahwa dialah yang tidak berusaha untuk mengerti saya padahal saya sudah banyak bicara tentang apa yang saya rasakan dan apa yang saya inginkan. Heboh deh waktu-waktu itu. Sangkin serunya, sampai kalau kami sudah lama tidak bertengkar; pengen deh rasanya bertengkar lagi. Hehehe..
"Kemarahan adalah bentuk dari ketiadaan penguasaan diri."


Suatu malam setelah untuk yang kesekian kalinya saya merasa menderita karena kemarahan saya, saya berusaha mencari jalan keluar dari permasalahan yang saya hadapi.  Saya membaca suatu buku yang mengubahkan cara saya berpikir.  
"Saya jadi menyadari bahwa benar hubungan kami tidak maju-maju dan saya selama ini salah besar karena saya pikir pasangan sayalah yang salah dan hubungan kami tidak akan berubah sampai dia yang berubah."
 Kenyataannya, sayalah yang harus merubah cara saya berkomunikasi dengan pasangan saya. Saya harus tau cara yang baik untuk menyampaikan keinginan saya dan mendukung pasangan saya untuk menjadi pasangan yang lebih baik.

Mungkin prinsip 3D akan membantu kamu yang punya pengalaman yang sama seperti saya :

 Diam 
Tidak ada gunanya melampiaskan amarah. Yang ada, hubungan kamu dan pasangan akan retak karena perkataan yang kamu lontarkan tanpa berpikir terlebih dahulu. Untuk dapat didengar dan dimengerti, kita juga harus belajar menyampaikan perasaan dan keinginan kita dengan bahasa yang tepat.

 Duduk 
Agar sebuah pemasalahan bisa selesai, kita harus duduk sama-sama untuk mencari win-win solution. Tidak ada permasalahan yang tidak dapat dipecahkan jika kita sama-sama mengambil sikap untuk menghargai hubungan kita, lebih daripada ego anda sendiri. Ingat, jangan memaksa pasangan kamu untuk duduk ketika ia baru saja mengalami hari yang panjang dan melelahkan. Atur waktu yang tepat agar kamu dan pasangan merasa rilex sehingga dipastikan win-win solution berada dalam genggaman.    


 Dengar 
Ketika marah, kita cendering ingin mendamprat pasangan kita dan menempatkan pasangan kita sebagai terdakwa sehingga kita tidak memberikan ruang bagi pasangan untuk menyampaikan apa yang perlu ia sampaikan dan menjelaskan apa yang ia perlu jelaskan. Kita harus ingat, bahwa hubungan bukan hanya tentang diri kita sendiri ataupun hanya tentang pasangan kamu. Hubungan adalah tentang kalian dan kalian memiliki hak yang sama untuk didengar.

Selasa, 15 November 2011

Sukses Dalam Sebuah Hubungan



Saya seringkali menemukan kerumitan timbul dari proses interaksi antar manusia. Setiap kita diciptakan secara unik dan istimewa. Hal ini yang membuat kita berbeda antara satu dan lainnya. Belum lagi latar belakang yang mendasari suatu perbedaan, baik dari lingkungan tempat kita dibesarkan, dengan siapa kita bergaul, kebiasaan-kebiasaan yang kita bangun, dan beberapa faktor lainnya. Kesedihan, keputusasaan, dan berbagai permasalahan yang rumit pun timbul sebagai akibatnya. Lantas, bagaimana seharusnya kita menyikapi perbedaan yang ada?

Saya dan pasangan saya sudah membangun hubungan selama lebih dari 4 tahun. Coba tebak di tahun ke berapa saya baru dapat belajar menerima dan memahami dia? Ya, kamu mungkin tidak berminat menebak dan langsung ingin melihat jawabannya. Di tahun ke-4 saya baru dapat belajar menerima dan memahami dia. Yang artinya, selama 4 tahun ke belakang banyak sekali pertengkaran, air mata, keputusasaan yang dapat dihindarkan jika saja saya menyadari nya lebih cepat. Sampai sekarang saya masih belajar karena proses tersebut terjadi terus menerus. Namun kini saya mengerti. Agar dapat menghadapinya; saya membutuhkan pengertian. Saya perlu belajar agar dapat sukses di dalam setiap hubungan yang saya bina. 

Saya ada disini sepenuhnya untuk berbagi. Saya menyadari bahwa dibutuhkan kerelaan untuk mulai mengambil komitmen agar saya dan pasangan dapat memiliki hubungan yang lebih baik. Dalam diskusi dan pengakuan saya kepada pasangan akan apa yang saya pelajari dari 4 tahun hubungan kami, pasangan saya setuju akan pernyataan saya, 
Pada dasarnya pria tidak akan pusing memikirkan bagaimana caranya untuk menjadi pasangan yang lebih baik dan bagaimana memiliki hubungan yang lebih baik dengan pasangannya.

Bukan karena mereka tidak perduli atau tidak mau tahu atau tidak mencintai kamu! Namun, ya... karena mereka pikir jika kamu menginginkan sesuatu, katakan saja. Jika mereka benar-benar mencintai kamu; mereka pasti akan mewujudkannya. Eitsss, jangan bersorak girang dulu ya. Tidak berarti kamu dibenarkan untuk menjadi pasangan yang menuntut! Dukungan kita juga sangat berarti bagi pasangan kita! 

Saya mengerti bahwa sebagai wanita, kita diciptakan dengan perasaan yang lembut dan keinginan untuk dicintai sepenuh hati. Kenyataannya, pria dan wanita memiliki kebutuhan dan cara mencintai yang berbeda. Melalui tulisan-tulisan saya, saya ingin membagikan pengalaman-pengalaman berharga saya, terutama bagi para wanita untuk belajar bagaimana cara menyikapi setiap perbedaan yang ada. Kamu boleh tidak setuju dengan saya, saya juga tidak mengklaim apa yang saya bagikan sebagai hal yang mutlak. Apa yang saya bagikan hanyalah keseimpulan dari pembelajaran pribadi saya.

Saya percaya jika kita ingin berhasil, kita harus banyak belajar. Meskipun kita adalah wanita, kita tidak bisa bersikap pasif dengan duduk berpangku tangan dan menunggu sampai seseorang datang membawa perubahan dalam hidup kita.

Kamu mungkin bertanya-tanya, "Interaksi manusia?" Hmm... lantas kenapa pria dan wanita? Alasanya sederhana. Saya melihat banyak sekali wanita yang kebingungan dan memposisikan diri mereka sebagai korban. Kehidupan mereka menjadi penuh dengan kesedihan, keputusasaan, dan seakan-akan pasangan mereka menjadi satu-satunya yang terpenting di dalam kehidupan mereka. Kehidupan mereka hancur jika satu orang pria menghancurkan hati mereka. Haruskah demikian? Saya yakin tidak!


Love,
Febryna Halim

Template by:
Free Blog Templates